DIRGAYUZA SETIAWAN: KERJA DENGAN PAK PRABOWO ITU MEANINGFUL WORK

Presiden Prabowo Subianto melantik Dirgayuza Setiawan sebagai Asisten Khusus Presiden bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan pada Rabu, 8 Oktober 2025. Dirgayuza, adalah sosok muda yang punya peran penting bagi orang nomor satu di Indonesia ini. Ia ditugasi membantu menyiapkan data serta membantu menyunting pidato kepala negara, seperti saat Presiden Prabowo menyampaikan Pidato di Sidang Umum PBB pada 23 September 2025 lalu.

Munculnya Dirgayuza di ring satu kepala negara bukan hal yang mengejutkan. Ia sempat menjadi Ketua Tim Media Sosial dan Informasi Publik Partai Gerindra usai merampungkan pendidikan dari Universitas Melbourne, Australia. Hal ini ia lakukan selama empat tahun pada 2011 hingga 2015. Selama menjadi asisten Prabowo, Dirgayuza terlibat aktif dalam sejumlah kampanye kunci Partai Gerindra seperti Pilkada DKI Jakarta 2012, Pilkada Kota Bandung 2013, dan Pemilu 2014. Ia juga turut membantu Dewan Pakar Partai Gerindra menyiapkan 6 Program Aksi yang diluncurkan ke publik tahun 2013. Setelah itu, tahun 2015 ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Oxford, Inggris. Pada 2016, Dirgayuza memperoleh predikat Master of Science di bidang Social Science of the Internet.

Pria kelahiran 1989  juga terlibat dalam pembuatan 10 buku Prabowo Subianto. Dirgayuza menjadi penyunting buku Paradoks Indonesia yang diterbitkan Prabowo pada 2017. Buku itu merekam gagasan-gagasan inti Prabowo tentang Indonesia ke depan.

“Setahun kurang saya bikin buku, sama Pak Prabowo, sangat intens, karena kita butuh satu buku yang menjelaskan ideologi dan perjuangan, tetapi dengan infografis yang mudah dibaca,” kata Dirgayuza.

Sumber: Istimewa (Penulis berfoto setelah wawancara dengan Dirgayuza)
Sumber: Istimewa (Penulis berfoto setelah wawancara dengan Dirgayuza)

Dirgayuza menerima Arya Fernandes di Jakarta, 30 Oktober 2025. Percakapan gayeng sampai dua jam. Dirgayuza bercerita masa kecil, karir, masuk lingkaran istana, sampai gagasan pokok Prabowo mencapai Indonesia Emas 2045. Berikut wawancaranya:

MASA KECIL PENERJUN

Bisa diceritakan masa kecil dan lingkungan keluarga yang membentuk pandangan dan nilai-nilai Anda?

Masa kecil saya banyak dihabiskan di hanggar pesawat di Halim Perdana Kusuma melihat Ayah dan Ibu saya terjun payung. Kalau tidak berada di hanggar, saya biasanya ada di kokpit atau di fuselage (badan pesawat) Hercules.

Ibu dan Ayah adalah penerjun payung, satu pelatih dan satu atlet. Jadi itulah juga kenapa nama saya Dirga. Dirga itu dari Dirgantara, olahraga Dirgantara. Kakak dan adik saya namanya juga Dirga, karena memang kita lahir dari dua pasangan penerjun payung. Ayah dan Ibu saya tunangannya pun sambil terjun.

Jadi, lingkungan penerjun payung yang membentuk masa kecil Anda?

Iya. Saya melihat kedua orang tua yang berani mengambil calculated risk. Terjun payung bisa berisiko kalau tidak benar-benar teliti. Payung harus di-packing dengan baik. Ibuku packingsendiri. Jadi untuk packing pun harus ada jadi certified packer. Kita kadang harus percaya sama orang lain tapi juga harus memeriksa lagi. Ketika semua faktor risiko telah dipertimbangkan dengan baik, terjun payung akan jadi olahraga yang aman. Tapi kalau tidak, pasti akan ada kecelakaan. Kebetulan di keluarga saya, kami kehilangan empat orang dari terjun payung. Tiga orang meninggal karena kecelakaan pesawat, dan satu orang meninggal karena payung yang tidak terbuka.

Ayah saya adalah penerjun militer. Jadi, dari situ kenal baik dengan Pak Prabowo. Kalau ibu, atlet. Jadi, mereka cocok. Jadi masa kecil itu saya sangat dipengaruhi oleh keberanian mengambil resiko dan kedisiplinan. Itu banyak saya dapatkan dari ayah dan ibu.

Bagaimana masa kecil ketika di Sekolah Dasar?

Saya SD di Cijantung, dekat Markas Komando KOPASSUS Cijantung. Namanya SD Islam Sudirman. Selepas kelas 4 SD, saya memilih mengundurkan diri dari SD, karena merasa pendidikannya tidak cocok sama saya. Jadi saya bandel. Saya pernah menguji guru saya untuk mengerjakan tugas yang diberikan ke saya dan guru tersebut tidak bisa. Akhirnya saya mundur dari sekolah tersebut. Setelah mundur, sama Ibu, saya diajak keliling ke 15 sekolah SD. Terus saya bilang tertarik sama sebuah sekolah karena toilet nya paling bersih. Saya baru menyadari setelah masuk bahwa sekolah yang telah dipilih adalah sekolah paling mahal se Indonesia, yaitu SD Tiara Bangsa Cibubur. Saat kelas 5 dan 6, murid-murid datang menggunakan mobil Ferrari, Mercy, dan lain-lain. Hanya saya yang mobilnya biasa saja (tertawa).

Lanjut SMP?

SMP saya masuk ke SMP Pelita Harapan di Sentul, dan kebetulan dapat beasiswa. Beasiswanya hampir full, baik SMP dan SMA. Di Pelita Harapan walaupun sekolah Kristen, tapi kita dapat melaksanakan salat Jumat. Itu menarik bagi ibu saya.

Di Pelita Harapan itu ada ranch berkuda di samping sekolah yang bernama JPEG, Jakarta Polo Equestrian Club. Saya belajar berkuda disitu karena harga belajarnya hanya Rp.10.000/pertemuan karena hampir tidak ada siswa yang diizinkan orang tuanya untuk berkuda. Jadi dari 500an siswa di Pelita Harapan itu, yang diberikan izin itu cuma 5 orang karena orang tuanya harus consent. Nah saya belajar berkuda, jumping, dan equestrian.

Bagaimana ceritanya bisa masuk Melbourne University?

Setelah saya lulus SMA, pekerjaan pertama saya dengan Pak Prabowo untuk mengurusi kuda. Jadi waktu itu beliau perlu seseorang yang memiliki kemampuan bahasa Inggris dan bertanggungjawab untuk mengurusi pemindahan kuda dari Argentina ke Jakarta via Thailand. Saat ini di Thailand tengah berlangsung Sea Games tahun 2007. Saya juga mengurusi Timnas Polo Berkuda dan jadi wakil manajer.

Dalam proses tersebut, sambil mencoba apply kuliah ke American University di Dubai karena mencari yang kira-kira saya bisa bayar karena harga dan living cost yang tidak terlalu mahal. Saya juga mencoba apply Melbourne University dan ternyata diterima. Terus saya mencari beasiswa, dan berhasil dapat beasiswa S1 dari Pak Hasyim melalui Yayasan Arsari Djojohadikusumo. Jadi berangkatlah ke Australia.

Selesai kuliah di Australia langsung ke Jakarta?

Pulang ke Jakarta tahun 2011 setelah S1 di Australia, saya bantu Fraksi Gerindra waktu itu di DPR RI, tapi dalam perjalanan melihat ada keperluan, kita membuat tim media di DPP. Kita mengajukan, Pak Prabowo setuju akhirnya ya udah kita kelola waktu itu namanya Tim Media Online DPP Partai Gerindra.

Lalu Anda melanjutkan studi ke Oxford?

Setelah Prabowo-Hatta kalah tahun 2014, saya apply Oxford, diterima dan dapat beasiswa, berangkat tahun 2015. Hidupku banyak ditentukan oleh siklus pemilu, termasuk tanggal nikah pun mempertimbangkan ketentuan KPU. Jadi waktu tahun 2019 mau nikah, saya mempertimbangkan jadwal pemilu. Karena saya harus ngundang Bapak Prabowo dan Sandiaga Uno. Jadi paling aman ketika itu adalah hari tenang, jadi setelah debat terakhir capres 2019 langsung nikah.

Sumber: istimewa
AWAL KEDEKATAN DENGAN PRABOWO

Bisa cerita tentang Ayah dengan Prabowo?

Ayah saya Kopassus TNI AD. Ayah kenal Pak Prabowo di Kopassus. Jadi Ayah saya dulu lulus Kedokteran UNPAD, aktivis kampus, banyak memimpin demo dan jadi Ketua Senat UNPAD bersama Ruhut Sitompul. Setelah itu Ayah mengikuti Wajib Militer, dan ketika diuji ternyata cocok masuk Kopassus. Jadi Wamil yang masuk Kopassus, dokter itu ayahku sekitar tahun 70an.

Ayah lulus UNPAD sekitar tahun ’70/’71, Ibuku angkatan 73 ITB.  Jadi, Ayah kenal Pak Prabowo di akhir tahun 70-an, dan berteman dengan Pak Prabowo sampai akhir hayat Ayah tahun 2020.

Waktu belajar berkuda pas SMP, apakah Anda sering bertemu Prabowo?

Tiap tahun kami biasanya silaturahmi lebaran ke rumah Pak Prabowo. Pada saat kelas 3 SMP, kami datang di hari ketiga lebaran sama Ayah dan Ibu. Mungkin karena sudah lowong, jadi banyak waktu ngobrol. Saya ngobrol dengan Pak Prabowo menggunakan bahasa Inggris dan kita banyak ngomongin kuda. Nah, dari hal tersebut, Pak Prabowo kagum ada anak Indonesia yang menyukai olahraga berkuda dan dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan lancar.

Lalu Pak Prabowo mengajak saya untuk mencoba berkuda di Pamulang. Pergilah kita Pamulang main polo bareng. Terus akhirnya, Pak Prabowo mendapatkan lahan di Jagorawi dan membangun klub berkuda di situ. Ayah saya diminta bantu untuk membangun dan akhirnya jadi sering ketemu di Jagorawi dan diberi nama Nusantara Polo Club.

Anda sudah berinteraksi lama dan sampai sekarang dikenal loyalis Prabowo, bagaimana Anda menjaga kedekatan dan interaksi dengan Prabowo?

Pak Prabowo itu orangnya clear. Apa yang dia inginkan dan itu memang 100 persen buat negara kita, bukan untuk dirinya sendiri. Jadi dalam interaksi saya dengan Bapak itu selalu about national vision, tentang nation building. Aku kan karena pernah di McKinsey pernah berinteraksi dengan orang-orang kaya di Asia Tenggara, ya banyak yang uninspiring karena ngejarnya hanya materialistik. Pak Prabowo itu orangnya tidak materialistik sama sekali. Dia ya mikirin soal bagaimana semua orang bisa punya kesempatan sama. Bagaimana reorientasi ekonomi supaya permodalan itu bisa diakses oleh masyarakat kecil. Bagaimana bagaimana inequality itu bisa kita solve ya. Jadi Pak Prabowo dari dulu sampai sekarang bicaranya sama, topiknya sama. Pak Prabowo itu value-nya clear dari dulu.

Apa yang membuat Anda nyaman berinteraksi dengan Prabowo?

Buat saya nyaman sama bapak karena sense of purpose-nya itu very clear. I always say meaningful work. Meaningful work itu kalau anak milenial sama gen Z itu yang dicari. Kalau kita survei-survei sekarang. Anak gen Z milenial mencarinya bukan nyari remunerasi semata, tapi meaningful work. Benjamin Franklin pernah mengatakan hidup yang bermakna itu pilihannya dua: either write something worth reading or do something worth writing. Nah ini yang dicari sama anak-anak gen Z milenial sebenarnya.

Buat saya kerja sama Pak Prabowo itu meaningful work. Coba bayangkan seperti sekarang, kita kerja bikin sekolah rakyat. It’s very meaningful work. Kita lihat respons dari anak-anaknya seperti apa. Terus makan bergizi gratis. Banyak saya dapat sejak saya dilantik dari orang tua orang tua murid yang merasa terbantu dengan program ini. Terus dari sekolah unggulan yang udah mulai kita jalankan. Itu juga orang tua murid yang gak mungkin dia kalau gak ada program itu bisa kasih anaknya sekolah yang baik.

Bagaimana Anda menjelaskan sosok Prabowo?

Kalau perlu jelasin Prabowo 30 detik, Prabowo is about equity. Jadi bukan equality, equality itu kita kasih semua orang sama, enggak. Pak Prabowo tuh equity, kalau orang yang butuh dibantunya banyak kita kasih banyak. Orang butuh dibantunya dikit, kita kasih tetap dibantu tapi sedikit. Kalau nggak perlu dibantu ya udah silakan aja. Prabowo is about equity. Dan faktanya di dunia saat ini, it’s an very unequal world, anak-anak yang lahir di keluarga yang punya ekonomi kuat, dia punya task jauh lebih kuat karena nutrisinya lebih bagus, pendidikan lebih bagus, dan lain-lain.

Sumber: Istimewa
GAGASAN BESAR PRABOWO

Apa gagasan besar Pak Prabowo yang sekarang ini belum banyak diketahui orang?

Jadi kita sekarang harus mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain. Artinya kita harus melompat jauh. Kita tidak bisa mengerjakan hal yang sama berulang-ulang kali mengharapkan hasil yang berbeda. Nah, jadi Pak Prabowo itu is about transformasi, makanya buku terakhirnya itu namanya Strategi Transformasi Bangsa. Transformasi itu butuh lompatan. Itu banyak yang belum paham.

Contohnya, kita harus menghadapi fakta bahwa banyak sekali atau sebagian besar guru-guru yang mengajar di SD, SMP, SMA kita itu under qualified dan underpaid. Bahkan ada studi yang menemukan teacher absenteeism (ketidakhadiran guru di sekolah) di Indonesia itu tertinggi di dunia. Oleh karena itu, Pak Prabowo sekarang punya program namanya Indonesia Cerdas dan kebijakan interactive flat panel dengan konten pembelajaran ke semua sekolah. Tahun ini kita kirim satu ke 288 ribu sekolah, tahun depan tiga kita kirim per sekolah, nanti semua kelas ada materi belajar interaktif berkualitas.

Bagaimana memastikan kualitas yang sama?

Interactive panel itu adalah lompatan. Jadi kita hadirkan di setiap kelas itu guru-guru terbaik yang memang bisa mengajar online, on demand. Programnya tinggal itu. Sebagai contoh, tidak semua sekolah di Indonesia bahkan hanya sedikit sekali yang punya lab fisika, lab kimia. Nah itu kita sekarang hadirkan lab-lab itu menggunakan interaktif panel itu jadi orang bisa ujian kimia yang materinya sudah tersedia di situ. Hal ini yang orang belum banyak yang tahu. Intinya Pak Prabowo sebuah talent developer makanya ada program makan bergizi gratis. Orang kalau lapar nggak bisa belajar, how do you learn if you are hungry.

Apa lagi yang penting menurut Anda yg dilakukan Prabowo selain program unggulan yang tadi telah disebutkan?

Kita ada PP Tunas, PP Tunas juga jarang dibahas itu kan breakthrough. PP Tunas itu kita melarang penggunaan media sosial untuk anak di bawah 13 tahun; dan anak usia 13-16 tahun harus mendapatkan izin dari orang tua. Itu kan breakthrough. Waktu itu bu Mutia Hafid dibilang otoriter sama platform tapi kita harus melindungi anak-anak kita supaya bisa tumbuh dengan baik. Gizi, nutrisi, kita kasih pendidikan yang baik. Kita juga ada sekolah rakyat. Sekolah rakyat itu kunci karena banyak anak. Jadi untuk sukses di sekolah, kita harus memiliki lingkungan yang baik.

Bisa cerita tentang gagasan Sekolah Rakyat?

Mayoritas keluarga miskin tinggal di lingkungan yang tidak kondusif. Sekolah Rakyat itu boarding school. Banyak kejadian mengharukan. Ada siswa yang dimasukkan ke sekolah rakyat karena ibunya tahu kalau tinggal di pinggir jalan tidak akan jadi orang. Kita tidak pernah tahu, bahwa anak kecil yang lahir dari orang tuanya yang miskin, lahirnya di kolong jembatan, mereka tetap punya kesempatan jadi presiden asal mendapatkan pendidikan bagus dan inklusif. Pemenang Nobel 2024, James Robinson dalam buku Why Nation Fails menjelaskan kunci dari negara yang berhasil adalah inclusive education yang dilanjutkan dengan inclusive institutions. Education harus inklusif, yang terbaik.

Sumber: Istimewa
KARIR TAK LAZIM

Apa keputusan yang paling penting dan paling strategis yang mempengaruhi Dirgayuza sampai sekarang?

Mungkin ya, ini tidak lazim bagi seorang milenial untuk terus bekerja pada orang yang sama dengan jangka waktu yang panjang. Dan ada beberapa orang juga misalnya Angga Raka Prabowo (Wakil Menteri Komunikasi dan Digital). Mas Angga sejak ketemu Bapak dan kerja sama Bapak sudah tidak ada ambil kerjaan lain, fokus terus sama Bapak.

Saya agak unik gitu pathway-nya. Jadi saya memilih untuk terus in touch dengan Bapak, tapi pada saat yang lain, saya juga selalu mencoba mencari opportunity untuk berada di luar lingkaran Bapak untuk bisa tahu kehidupan di luar lingkaran Bapak itu seperti apa. Nah, itu mungkin pilihan paling strategis menurut saya karena ada beberapa episode saya sudah di dalam, tapi memilih keluar, sebentar. Misalkan ketika ke Oxford, itu kan jauh dari lingkaran Bapak.

Setelah dari Oxford juga sempat berkarir di McKinsey?

Ya. Saya ambil kerjaan di McKinsey. Pulang dari Oxford, saya kerja dulu sama Bapak untuk bikin buku Paradoks Indonesia tahun 2016. Setahun kurang saya bikin buku, sama Bapak, sangat intens, karena kita butuh satu buku yang menjelaskan ideologi, perjuangan, tapi dengan infografis yang mudah dibaca.

Dulu kita punya buku namanya Membangun Kembali Indonesia Raya, tapi semua isinya teks. Agak susah diterima oleh masyarakat umum. Buku ini berisi pemikiran Pak Prabowo tentang kedaulatan pangan, kedaulatan energi, tentang bagaimana menjaga kekayaan kita tidak mengalir ke luar negeri. Buku Paradoks Indonesia lebih menyusun kembali dan membuat format baru dari Membangun Kembali Indonesia Raya.

Bagaimana cerita bekerja di McKinsey?

Pada tahun 2017, saya mengajukan ke Bapak, untuk kerja di McKinsey, karena McKinsey itu dianggap CEO Factory of the World. Kan ada istilah gitu ya, CEO Factory. Top CEO dunia itu dari McKinsey. Setelah wawancara panjang, sekitar empat lima bulan, diterima, udah ada surat terima, baru saya lapor, pak, saya izin.

Apa pelajaran penting dari McKinsey?

Masuk McKinsey buat saya adalah keputusan sangat strategis karena dari McKinsey ini saya bisa masuk ke boardroom lebih dari dua puluh perusahaan dalam dan luar negeri. Karena McKinsey role-nya hanya serve CEO atau CXO, dia tidak serve yang minus satu, minus dua, minus tiga itu enggak dia harus langsung sama pembuat keputusan di perusahaan itu. Nah dari situ saya masuk ke banyak boardroom private company di Indonesia, BUMN di Indonesia dan juga di luar negeri. Dan di situ aku jadi tahu bagaimana decision making process mereka. Keputusan investasi, keputusan divestasi, keputusan merger, keputusan hire orang, pecat orang, reorganisasi, bagaimana vendor selection, bagaimana manage proyek USD 40 miliar atau sekitar lima ratus triliun, keribetannya dengan pemerintah seperti apa, tapi dari sisi swastanya atau dari sisi BUMNnya.

Tiga tahun setengah di McKinsey itu, luar biasa dan berpengaruh sampai sekarang. Ketika masuk McKinsey saya nggak punya MBA (Master of Business Administration). Mereka punya program mini MBA di New York. Mereka mendatangkan pengajar terbaik dari Harvard, Yale, dan Wharton. Tidak ada sertifikat degree-nya, tapi saya belajar dari pengajar terbaik di semua business school terbaik di Amerika untuk komunikasi, valuasi, dan strategi bisnis.

Bagaimana menghandle komunikasi dengan CEO-CEO?

Di level CEO CXO yang paling penting adalah komunikasi. Karena kalau udah di tingkat CXO CEO, mereka punya keterbatasan waktu. Mereka perlu cara yang mudah untuk mendigest informasi dengan cepat dan tepat. Mereka perlu orang yang bisa mengecek data-datanya itu benar atau enggak. Nah, itu skill yang saya belajar di McKinsey. Gimana komunikasi dengan orang-orang yang super sibuk, yang istilahnya McKinsey itu Minto Principle, reverse pyramid, mulai dari kesimpulannya dulu, baru lu kasih penjelasan-penjelasan atas kesimpulan itu. Dan itulah mungkin kenapa saya bisa cukup efektif bantu Bapak Presiden sekarang, ya karena pengalaman di McKinsey itu. Aku tanpa McKinsey nggak mungkin bisa seperti sekarang.

Apa yang membuat McKinsey waktu itu bisa terima waktu itu?

Saya lulus semua ujiannya. Oxford mungkin hanya pembuka jalan. Jadi kalau McKinsey itu mereka memang hanya terima lulusan Top 100 University atau kalau di Indonesia ada beberapa kampus yang mereka whitelist, tapi habis itu kita ada dua ujian. Satu ada ujian tertulis, ya itu matematika, hardcore matematika 60 menit harus selesai, dua puluh tujuh pertanyaan atau something like that, namanya PST (Problem Solving Test). Terus habis itu wawancara, wawancaranya itu lima wawancara. Semuanya case study, harus memecahkan masalah, ada hitungan-hitungannya, tidak diberikan kalkulator, dan harus bisa meyakinkan orang itu secara langsung dan harus dijelaskan. Kalau angkanya beda 0,2, 0,5 desimal point is fine, tapi yang paling penting adalah bisa menjelaskan secara runut akan mengerjakan apa.

BERANI MIMPI

Sebagai anak muda yang sukses, apa nasehat atau inspirasi bagi anak muda Indonesia ke depan?

Raih ilmu setinggi-tingginya. 99 persen orang yang gagal masuk Oxford itu karena tidak berani mengirimkan application letter. Itu fakta. Jadi gagalnya bukan karena ketika wawancara atau ketika ujian. Tapi nggak percaya diri mengirimkan aplikasi. Menurut saya, setiap anak Indonesia harus berani bermimpi masuk ke kampus nomor satu di dunia. Kalau tidak diterima Oxford bisa masuk kampus nomor dua, masuk nomor tiga, atau top 100. It’s a life changing education ketika you are at the very top. Jadi ketika anda masuk kampus yang di ranking QS nomor satu dan tidak ada lagi kampus yang lebih baik, Anda akan pertama punya confidence yang sangat besar. Kedua, Anda punya akses perpustakaan Oxford yang memiliki 12 juta volume buku dan mendapatkan akses semua jurnal di seluruh dunia menggunakan alamat email Oxford. Oxford juga menyediakan allowance untuk mengikuti conference di seluruh dunia untuk mahasiswa S2 sebanyak 3 conference setiap tahun dan mendapatkan allowance 600 dolar plus tiket pesawat. Kita juga boleh request, kalau ada buku yang tidak ada di perpustakaan, dan kita boleh request untuk jadi punya kita dan punya perpustakaan.

Jadi, anak Indonesia harus merasakan sekolah di institusi nomor satu di dunia yang tidak ada lagi di atasnya. Nah, itu menurutku harus dijadikan mimpi bagi semua orang. Dulu Anwar Fuadi pernah menulis novel Negeri Lima Menara. Terus Andrea Hirata juga pernah menulis Laskar Pelangi, terus dilanjutkan sampai keluar negeri. Menurut saya anak-anak Indonesia harus banyak baca. Saya dulu juga terinspirasi setelah membaca Laskar Pelangi. Oh ternyata kita tidak boleh takut untuk mengejar mimpi, untuk sekolah dan kerja di luar negeri, biar kita tahu dan mendapatkan pengalaman internasional. Jadi itu yang saya rasa penting.

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Saya juga dulu pas S1 ya dapat kesempatan magang jadi Aspri anggota DPR di Australia. Satu-satunya orang Indonesia jadi Aspri anggota DPR itu belum pernah ada karena programnya ada, tapi tidak ada yang apply. Saya apply tembus, wawancara dan jalan enam bulan jadi Aspri dan ternyata yang terbaik.

BIODATA

Nama: Dirgayuza Setiawan

Lahir: Jakarta, 15 Mei 1989

Pendidikan:

  • S1 jurusan Ilmu Politik dan Media Komunikasi di Universitas Melbourne, Australia.
  • S2 jurusan Social Science of the Internet di universitas nomor satu dunia: Universitas Oxford.

Karir:

  • Asisten Prabowo Subianto dan terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kampanye kunci Partai Gerindra (DKI Jakarta 2012, Kota Bandung 2013, dan Pemilu 2014).
  • Tim Dewan Pakar Gerindra dalam menyiapkan 6 Program Aksi.
  • Konsultan di McKinsey & Company.
  • Juru Debat Prabowo-Sandi dalam Pemilu 2019.
  • Asisten Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
  • Tim Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
  • Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha Holding BUMN Pangan ID FOOD.
  • Asisten Khusus Presiden Indonesia Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.

Buku:

  • Nilai Nilai Pendekar Pejuang
  • 100 Ide untuk Presiden dan DPR Baru
  • Editor 10 Buku Prabowo Subianto