Prabowo dan Jokowi di 2029: Sekutu atau Seteru?

Sumber: https://presidenri.go.id
Sumber: https://presidenri.go.id
Tren elektabilitas Prabowo dan tren suara PSI akan menentukan hubungan elektoral antara Prabowo dan Jokowi menuju 2029 nanti.

Kenapa Penting: Semakin tinggi suara Prabowo, semakin ia mempunyai banyak opsi menjelang 2029. Semakin tinggi suara PSI, semakin tinggi kartu truf yang dimiliki Jokowi. 

Apa yang terjadi? Perkembangan politik terkini akan menentukan langkah politik elite ke depan, termasuk Prabowo dan Jokowi.  

  • Kepuasan publik: Angka kepuasan terhadap pemerintah turun tajam menjelang dua tahun pemerintahan seperti rilis survei terbaru SMRC akhir Juli 2026. Istana merespons santai dan yakin Program Makan Bergizi Gratis dan program strategis lainnya akan mendongkrak keterpilihan Prabowo. 
  • Manuver Jokowi: Jokowi secara aktif melakukan safari politik ke Lampung dan terakhir ke NTT. Ia meyakini PSI akan mampu menembus Senayan bahkan menjadi partai besar. Tim Jokowi mampu “menjual” kunjungan tersebut ke publik.
  • Elektabilitas turun: Masih menurut SMRC (2026), keterpilihan Prabowo mengalami penurunan tajam. Penurunan suara tahun kedua periode pertama cukup jarang terjadi. Namun Prabowo masih punya banyak waktu untuk memperbaiki kinerja elektoral.

Skenario Prabowo: Tren elektabilitas dan kepuasan publik akan menentukan langkah politik Prabowo, termasuk bargaining politiknya dengan Jokowi dalam pemilu 2029.

  • Bila suara rebound, Prabowo akan maju tanpa Gibran. Meskipun cukup sulit rebound dalam waktu cepat, Prabowo memiliki banyak amunisi untuk mendongkrak kembali suaranya.
  • Bila tren suara Prabowo tidak stabil, Prabowo ada kemungkinan melobi Dedi Mulyadi sebagai cawapres. Saat ini Dedi adalah penantang paling kuat.
  • Bila suara Prabowo tergerus, opsi politik menyempit. Di titik ini, ia dan Jokowi kembali bernegosiasi membicarakan kemungkinan berpasangan dengan Gibran, atau tokoh lain yang direstui Jokowi.

Skenario Jokowi: Peningkatan suara PSI akan menentukan level bargainingnya dengan Prabowo.

  • Bila suara PSI menembus 10 persen dalam survei, Jokowi akan percaya diri mengusung capres sendiri. Bisa Gibran atau kandidat lain.
  • Bila suara PSI tak maksimal, Jokowi akan realistis mencalonkan orangnya sebagai cawapres, bisa bersama Prabowo atau kandidat lain.

Pada pemilu 2029, basis politik PDIP diperkirakan akan menjadi target utama suara PSI. Kaesang Pangarep mengumumkan maju di Dapil Jawa Tengah V. Dengan mesin politik Jokowi, PSI berpeluang mengamankan 1 atau 2 kursi di sana.

Pelajaran 2009 dan 2019: Petahana yang kuat cenderung mengganti wakilnya di periode kedua. 

  • 2009: SBY, dengan elektabilitas dan kepuasan yang tinggi saat itu, memilih Boediono, seorang ekonom kawakan dan berpengalaman di pemerintahan.
  • 2019: Jokowi, ketika itu juga sangat kuat, memilih KH. Ma’ruf Amin, saat itu menjadi Rais Aam PBNU.

Poin Utama: Secara personal hubungan Prabowo dan Jokowi mungkin akan tetap baik. Namun, dalam hubungan elektoral, keduanya akan dipisahkan oleh kekuatan politik masing-masing.