Ambiguitas Politik Nasdem dan Opsi Politik yang Tersedia

Sumber foto: Antara
Ada dua ambiguitas yang terjadi pada Nasdem. Satu terkait posisinya terhadap pemerintahan Prabowo ke depan. Dua terkait arah kepemimpinan internal partai.

Ketidakjelasan terhadap dua hal itu membuat kebingungan kader dan massa akar rumput. Beberapa kader lompat pagar. Lainnya mulai dipinang partai lain. Kondisi tersebut terjadi hampir dua tahun ini. Terutama setelah pemilu 2024 usai.

Di tengah ketidakjelasan tersebut, muncul laporan Majalah Tempo. Laporan itu mengagetkan banyak orang. Menurut Tempo, akan ada skenario merger antara Nasdem dengan Gerindra. Ada yang percaya, ada yang setengah percaya, dan ada juga yang tidak sepenuhnya percaya.

Banyak spekulasi bermunculan. Apakah memang ada penawaran merger itu. Siapa yang menawarkan. Atau sebenarnya hanya keinginan kedua partai untuk membuat koalisi permanen pada pemilu 2029 nanti.

Nasdem meradang setelah laporan itu terbit. Sejumlah kader partai memprotes kantor Tempo.

Sejak Prabowo menjadi presiden, Nasdem jarang mendapat sorotan utama di pemberitaan. Partai ini memilih untuk berdiri di pinggir lapangan. Mendukung presiden, walau tidak masuk kabinet. Pilihan yang belum pernah terjadi sejak reformasi.

Di masa pemerintahan sebelumnya, Nasdem menjadi sekutu utama Jokowi. Surya Paloh, hampir selalu hilir-mudik ke Istana. Sukses mengantarkan Jokowi menjadi presiden tahun 2014 dan 2019, Paloh dapat tempat spesial di hati Jokowi.

Namun situasi berubah drastis setelah kalah dalam pemilu presiden 2024. Sejak itu mulai ada kasak kusuk menyasar elite partai. Elite Nasdem mulai dilirik partai lain. Ditawarkan posisi strategis. Juga mulai muncul pembicaraan terkait kepemimpinan internal partai pasca-Paloh.

Suksesi internal memang jarang dibahas. Dianggap sensitif. Ada anggapan bahwa Paloh belum sepenuhnya tergantikan untuk memimpin Nasdem. Namun, melalui orang kepercayaannya, ada isyarat Paloh merestui regenerasi politik internal.

Masalahnya siapa yang akan menggantikan Paloh? Dan apakah suksesi akan benar-benar terjadi serta apa untungnya bagi Nasdem?

Terhadap kondisi tersebut, setidaknya muncul tiga kelompok di internal Nasdem.

Kelompok pertama, berpandangan bahwa Paloh harus tetap menjadi ketua umum partai sampai pemilu 2029. Setelah pemilu usai, Paloh dapat mempersiapkan pengganti dalam kongres partai yang ke-4. Kelompok ini percaya hanya Paloh yang mampu membangun komunikasi antar-elite politik dalam situasi yang menantang menjelang pemilu.

Kelompok kedua, lebih moderat. Perlu adanya regenerasi. Namun Paloh tetap memegang kendali terhadap keputusan strategis partai. Seperti penentuan calon presiden, koalisi pilpres, serta calon kepala daerah dan caleg di provinsi besar. Kelompok ini berpendapat, untuk mengurus partai diperlukan tokoh yang memiliki afiliasi dengan Paloh. Bisa anak atau orang kepercayaan Paloh. Modelnya bisa dilakukan dengan penunjukkan ketua harian atau sepenuhnya menjadi ketua umum.

Kelompok ketiga, kelompok progresif. Kelompok ini tidak banyak muncul ke permukaan. Mendorong regenerasi internal dilakukan secara demokratis melalui pemilihan. Ketua umum bisa berasal dari siapa saja yang dapat membangun dan meningkatkan suara partai dalam pemilu berikutnya.

Sikap Paloh terkait isu suksesi ditunggu para kader. Juga akan menenentukan soliditas dan konsolidasi partai ke depan.

***

Sumber foto: Nasdemjogja.id

Setelah tidak menjadi anggota kabinet, Nasdem sebenarnya bisa melakukan konsolidasi politik lebih awal. Pertarungan 2029, tentu akan terasa lebih berat bagi Nasdem. Partai penguasa bertambah kuat. Partai baru muncul. Partai koalisi mendapatkan insentif dari program pemerintah.

Di tangan Surya Paloh, Nasdem memang menunjukkan tren positif. Pertama kali ikut pemilu pada tahun 2014, Nasdem mendapatkan 6,72%, lalu naik menjadi 9,05% pada pemilu 2019 dan naik lagi jadi 9,66 pada pemilu 2024.

Di pemilu 2029 situasi menjadi tidak mudah bagi Nasdem. Pada 2014-2019, Nasdem diuntungkan karena memiliki asosiasi yang tinggi dengan Jokowi. Apalagi, saat itu, Nasdem termasuk yang paling getol mendukung Jokowi.

Di awal berdiri, partai ini banyak melakukan inovasi. Nasdem mulai dengan gagasan tentang Restorasi Indonesia. Ide itu menarik minat anak muda. Setelahnya muncul Politik Tanpa Mahar dalam Pilkada. Para kepala daerah berbondong mendaftar melalui Nasdem.

Inovasi lainnya terkait pembentukan Tim 7 dalam Pilkada. Tim ini bertugas menyeleksi calon kepala daerah. Metode penyaringan dilakukan secara ilmiah melalui survei. Saat itu Nasdem menyewa jasa sejumlah lembaga survei. Walhasil, kemenangan Nasdem meningkat dibandingkan sebelumnya.

Nasdem juga muncul dengan isu konvensi capres. Walau akhirnya tidak jadi dilakukan karena sejumlah pertimbangan.

Inovasi-inovasi yang telah dilakukan Nasdem menarik bagi banyak elite partai. Sejumlah elite dari Hanura, PPP, dan PAN pindah ke Nasdem pada pemilu 2019. Ini yang salah satu menjelaskan kenaikan suara Nasdem saat itu.

Setelah jagoannya kalah dalam pemilu 2024, Nasdem seperti kehilangan arah. Tidak ada terobosan dalam 2 tahun terakhir. Nasdem juga tidak mendapat insentif elektoral dari dukungan terhadap pemerintah.

Dilema-dilema itu akan terus menghantui Nasdem sampai pemilu nanti. Kecuali ada perubahan mendasar dalam arah kebijakan strategis partai ke depan.

Pilihannya bisa menyiapkan desain regenerasi internal dan menghitung ulang antara mendukung atau menjadi partai penyeimbang di parlemen.

Lalu apa opsi yang tersedia? Satu, masuk penuh di kabinet, mendapatkan akses kekuasaan. Tapi harus siap kehilangan diferensiasi menjelang pemilu. Kedua, menjadi penyeimbang. Ini dapat memberikan brand baru bagi Nasdem yang strategis dalam pemilu nanti. Ketiga, fokus pada konsolidasi internal melalui desain regenerasi dan sirkulasi kepemimpinan.***