Hasan Nasbi mulai dikenal luas oleh publik dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2012. Ia menjadi inisiator Jakarta Baru, barisan relawan utama Jokowi-Ahok. Pria kelahiran Bukittinggi, 11 Oktober 1979 ini boleh jadi menjadi konsultan politik termuda saat itu.
Dengan bendera Cyrus Network, Hasan dikenal sebagai analis yang memadukan angka survei dan jaringan politik di ‘darat’. Ia pun menjadi sosok di balik layar kekuasaan. Kiprahnya membawa Hasan masuk lingkaran pemerintahan. Ia dipercaya memimpin Kantor Komunikasi Kepresidenan pada 19 Agustus 2024 atau di akhir pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Hasan melanjutkan tugasnya di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia dilantik oleh Prabowo sebagai kepala Presidential Communication Office (PCO) pada 21 Oktober 2024 bersamaan dengan pelantikan jajaran Kabinet Merah Putih lainnya. Hasan mundur dari PCO pada April 2025 lalu. Setelah itu, Hasan masuk ke jajaran komisaris PT Pertamina.
Di balik seluruh capaian itu, Hasan dikenal sebagai pribadi yang mengedepankan argumentasi rasional dan berbasis data. Ia pun membeberkan semua kisah masa kecil sampai perjalanan kariernya dengan terbuka kepada Arya Fernandes. Berikut petikan wawancaranya:

KELUARGA DAN MASA KECIL
Bagaimana latar belakang keluarga dan apa nilai-nilai keluarga yang membentuk Anda?
Ayah saya itu santri, alumni dari Perti di Canduang, Sumatera Barat. Dia muridnya Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, pendiri Perti. Lalu kuliah di IAIN Bukittinggi. Kalau ibu saya pendidikan guru, Sekolah Pendidikan Guru. Beliau mungkin menjadi guru selama 35 tahun hingga pensiun. Kalau ayah saya, pekerjaannya ganti-ganti. Yang rutin memberikan ceramah keliling-keliling daerah. Tapi untuk mencari uang: beliau jadi guru, kadang jadi petani, kadang beternak ikan, dan kadang jadi tukang jahit. Ayah sudah mencoba semuanya untuk hidup dan paling lama menjadi petani. Di akhir hidup, beliau menjadi anggota DPRD di Sijunjung selama dua tahun dari Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Terpilih tahun 1999 dan meninggal tahun 2021.
Ibu dan Ayah berasal dari Sijunjung?
Keduanya berasal dari Sijunjung. Ibu saya dari Tanjung Ampalu dan ayah dari Tanjung Beringin. Dulu masih satu kecamatan, sekarang sudah beda. Keduanya bertemu di Bukittinggi. Sama seperti ibu, ayah juga PNS. Beliau pernah jadi Lurah dan PNS di Balai Kota (Bukittinggi). Tapi karena dulu itu mungkin jiwa mudanya masih meronta-ronta, lalu ‘berantem’ sama wali kota, jadi dinonaktifkan. Setelah itu, beliau tidak pernah masuk kantor lagi. Setelah 5 tahun, terbit surat pemberhentiannya dari BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara).
Bagaimana kehidupan masa kecil Anda?
Saya bersaudara 6 orang. Keadaan ekonomi pasti sangat pas-pasan. Namun, kita bisa sekolah semua. Di rumah kita tidak punya apa-apa. Setelah Ayah tidak lagi menjadi PNS, motor dijual. Di rumah tidak ada TV. Sampai kelas 3 SMA, saya menonton di tempat tetangga. Kita tinggal di perumahan guru. Saat itu, Pemda menyediakan sekitar 80 unit rumah. Guru yang belum punya rumah itu bisa tinggal di sana sampai pensiun. Bapak meninggal tahun 2001 ketika saya masih kuliah semester 5 di UI.
Bagaimana sosok Ibu di mata Anda?
Sejak Ayah meninggal, Ibu yang menghidupi kami. Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Sejak semester 6 di UI, saya sudah tidak dikirimi uang lagi. Saya bekerja serabutan sambil kuliah untuk menyambung hidup, agar tetap kuliah. Apalagi kuliahnya lama sampai 12 semester. Untuk menambah pemasukan keluarga, Ibu membuat makanan kecil untuk dijual di kantin sekolah.
Dengan kondisi ekonomi yang sulit, semua saudara bisa kuliah?
Kita semua kuliah. 3 orang kuliah di UI, 2 orang kuliah di UNAND, dan 1 orang kuliah di USU. Agar kami bisa kuliah, Ibu bekerja banyak hal untuk menutupi gaji. Gaji Ibu sebenarnya sudah habis karena sudah dipotong utang koperasi dan bank. Gali lubang, tutup lubang.
PNS guru memang seperti itu hidupnya dulu. Sorenya, ibu membuat snack yang dikemas di plastik. Besok ditaruh di kantin sekolah. Ibu juga menjahit kodian. Karena di Jakarta, saya hidup sendiri untuk bisa survive. Dibandingkan dengan saya, adik-adik yang kuliah di UNAND lebih punya memori panjang tentang perjuangan Ibu. Ibu berperan besar agar kita bisa kuliah setelah Ayah sudah meninggal tahun 2001.
Bagaimana hubungan Anda dengan Buya Syafii Maarif dan seberapa intens berkomunikasi?
Kakek saya punya 3 orang istri. Istri pertama berasal dari Sumpur Kudus, ibunya Buya Syafii. Buya Syafii adalah anak bungsu dari istri pertama. Ibu saya anak bungsu dari istri kedua di Tanjung Ampalu. Kakek juga punya istri ketiga di Lintau. Kakek saya pedagang. Dia punya kebun yang luas.
Saat kuliah di Jakarta, saya bertemu Buya yang saat itu menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Tapi saya tidak menggantungkan hidup pada Buya, dan tidak banyak orang yang tahu saya adalah keponakan Buya, karena tidak pernah diekspos. Dengan Buya Syafii itu, saya total bertemu tidak sampai 5 kali.

MENJADI WARTAWAN DAN KONSULTAN POLITIK
Anda pernah menjadi wartawan Kompas. Kenapa memilih mengundurkan diri?
Saat mahasiswa dulu, selalu ada rasa heroik, jadi merasa bawaannya mau jadi pejuang saja. Apalagi waktu mahasiswa saya bergumul dengan pemikiran kiri. Membaca buku-buku kiri jadi rasa-rasa mau jadi Social Justice Warrior. Waktu itu pilihannya jadi pendidik, jadi LSM atau jadi jurnalis. Kalau jadi pendidik, nilai IPK saya tidak memadai untuk menjadi asisten dosen, walaupun passion mengajarnya ada. Saya juga kebetulan tidak terlalu dekat dengan dosen-dosen. Kalau jadi LSM, kayaknya tidak sanggup berjuang terus, karena kita kan butuh hidup juga. Yang paling masuk akal waktu itu berjuang sambil dapat gaji, jadilah saya jurnalis. Jadi, mereknya sebagai pejuang ada, tapi dapat jaminan gaji juga. Apalagi berhasil diterima di perusahaan media terbesar. Di antara perusahaan-perusahaan media yang ada waktu itu, gaji Kompas paling baik.
Setelah setahun di Kompas, passion saya ternyata bukan jadi jurnalis. Awal-awal bekerja di Kompas, saya ditempatkan di daerah. Menulis tentang cabai, ubi-ubian, hama, peternakan, penyakit kuku dan mulut. Waktu itu lagi heboh-hebohnya pilkada. Saya merasa kok keren sekali orang yang bekerja di lembaga survei.
Bagaimana Anda memutuskan menjadi peneliti lalu konsultan politik?
Waktu itu, seseorang yang bekerja di lembaga survei keren sekali. Ada Saiful Mujani, Denny JA, dan M. Qodari. Ada konsultan politik untuk Pilkada yang dilakukan Denny JA. Kayaknya ada panggilan jiwa untuk menjadi political researcher, tapi khusus untuk Pilkada dan Pemilihan Umum. Setelah dari Kompas, tahun 2006 saya bergabung dengan Pusat Kajian Politik (Puskapol) UI sebagai peneliti. Saat itu saya berhasil membawa project survei pertama kali ke Puskapol. Dalam 13 bulan di Puskapol, saya mendapatkan sekitar 13 project, termasuk Quick Count DKI 2007.
Setelah dari Puskapol, saya bergabung dengan IRDI, sebuah think tank milik Andi Mallarangeng. IRDI kemudian menjadi pollster menjelang Pemilu 2009. Saya bergabung dengan IRDI sekitar 6 bulan. Saat di IRDI, pertama kali saya melaksanakan survei nasional. Setelah dari IRDI, saya bergabung bersama Andrinof Chaniago mendirikan Cirus Surveyors Group (CSG) pada Oktober 2008. Dan mengerjakan survei-survei nasional pada Pemilu 2009, Quick Count Pileg dan Pilpres 2009.
Setelah keluar dari Cirus Surveyor Group, Anda lalu mendirikan Cyrus Network. Bisa menceritakan?
Cyrus Network (CN) berdiri pada 2010 saat kita menangani klien pertama dalam Pilkada Cianjur. Kalau Cyrus Network itu standing-nya sebenarnya bukan jadi pollster, tapi jadi konsultan politik. Jadi, survei menjadi pelengkap kerja-kerja sebagai konsultan politik. Untungnya, project pertama tersebut kita menang dan lumayan harum nama waktu itu. Ini step stone pertama saya untuk bisa berkibar menjadi sebuah kantor konsultan politik.
Bagaimana Anda membangun Cyrus Network?
Saya tidak tahu lembaga lain. Bagi saya perusahaan tidak boleh main-main dan utak-atik data sedikit pun. Ada pollster yang mengutak-utik angka dalam margin of error. Di CN tidak boleh sedikit pun mengutak-atik data. Kita pernah pegang klien yang kalah, tapi sebelumnya kita sudah tahu karena datanya menunjukkan bahwa dia kalah. Tapi dalam banyak pertempuran besar kita menang. Dalam pertempuran kecil, beberapa kita kalah.
Ketika saya mendirikan perusahaan, semua pendiri punya saham walaupun tidak menyetor modal. Tapi sahamnya tidak bisa dibawa keluar. Jadi kalau keluar, keluar saja. Pertama kali ada 7 orang yang semuanya mendapatkan saham. Saham saya hanya 32 persen. Jadi tidak mayoritas. Tapi aturan main di dalam saya punya veto. Selama saya jadi CEO, paling sedikit karyawan mendapat bonus tiga kali gaji. Namun, di event-event besar seperti Pilkada dan Pemilu bisa naik 10 kali gaji.
KONSULTAN POLITIK JOKO WIDODO DI PILKADA DKI JAKARTA
Bagaimana interaksi Anda pertama kali dengan Joko Widodo?
Pak Joko Widodo adalah klien kedua kita. Ada proses untuk meyakinkan beliau untuk datang ke Jakarta. Saat itu kita memiliki hasil survei opinion leader dengan 160 orang expert (responden) dari bidang politik dan ekonomi. Dari hasil survei tersebut, keluar nama Jokowi. Kita juga kaget munculnya nama Jokowi sebagai orang yang dianggap paling mampu membenahi Jakarta. Di urutan kedua, muncul nama Fadel Muhammad, selanjutnya Sandiaga Uno, Faisal Basri, dan Fauzi Bowo.
Saya menelepon Pak Jokowi yang saat itu masih menjadi walikota untuk bertemu. Kebetulan Pak Jokowi waktu itu akan mengisi ceramah di Balai Sidang UI, pada Desember 2011. Saya bertemu Pak Jokowi bersama Prof. Hamdi Muluk di Starbucks UI. Waktu itu kita berusaha meyakinkan Pak Jokowi agar bersedia maju dalam Pilkada DKI.
Saat itu Pak Jokowi masih underdog. Tidak ada konsultan besar yang mau menjadi konsultan beliau. Dan Jokowi pasti tidak bisa membayar mahal pada saat itu. Konsultan-konsultan besar semuanya berada di tim Fauzi Bowo, seperti Saiful Mujani, JSI, Ipang Wahid, dan Denny JA. Yang tersisa di tempat Pak Jokowi: Saya, Mas Eep Saefullah Fatah, dan Bang Andrinof Chaniago. Kira-kira itulah yang tersisa. Saya ditugaskan Pak Jokowi untuk ground troopers, jadi pasukan darat.
Berapa umur Anda ketika itu?
33 tahun. Saat itu saya pemilik konsultan politik termuda.
Apa yang membuat Pak Jokowi mau maju di Jakarta?
Itu bujukan banyak orang. Saya tidak bisa mengklaim sendiri. Ada banyak orang yang telah membujuk. Seperti, Pak JK Pak Djan Faridz (PPP), dan Pak Hashim Djojohadikusumo. Pak Prabowo juga meminta Pak Jokowi maju. Jadi banyak orang. Banyak kekuatan waktu itu. Begitu Pak Jokowi resmi maju, kita dipanggil untuk membantu pergerakan darat. Dalam Pilkada DKI itu, Pak Hashim membantu all out.
Bagaimana Ahok menjadi pendamping Jokowi?
Ahok sebenarnya agak unik. Namanya berapa kali saya coret di depan Jokowi sebagai calon wakil. Pak Jokowi meminta menguji sejumlah nama untuk calon wakil. Dari 10 nama kandidat wakil, ada nama Ahok. Di 5 dan 3 nama untuk jadi calon wakil, muncul lagi Ahok. Di 3 nama, ada Deddy Mizwar, Rano Karno dan Ahok. Saya sampai mengatakan waktu itu: “Pak, ini kalau muncul lagi nama (Ahok) jangan-jangan dia jadi wakil beneran.” Pak Jokowi langsung bilang: Coba dikaji dua nama terakhir. Dan hasilnya tetap Ahok unggul. Waktu ketemu, Ahok mengatakan: “Ini Hasan, tukang coret-coret nama gua,” kata Ahok. (tertawa). Ketika Pak Jokowi bicara dengan Ahok, Ahok menyebut nama saya sebagai konsultan yang cocok mendampingi pasangan tersebut. “Oh, kalau begitu cocok,” kata Pak Jokowi. Di Pak Jokowi sebenarnya juga sudah ada nama saya.
Waktu itu Ahok masih di Golkar, lalu menjadi kader Gerindra waktu pencalonan. Ahok dekat sama Sunny Tanuwijaya. Sunny mengetahui perjalanan kita mendukung Pak Jokowi.
Anda membuat sejarah baru di Jakarta. Apa saja yang dilakukan saat pilkada waktu itu?
Itu benar-benar titik balik semua keadaan di Jakarta. Kita benar-benar membuat sejarah waktu itu. Kita mendirikan Relawan Jakarta Baru. Gerakan Jakarta Baru, saya kira adalah relawan politik yang pertama kali di Indonesia. “Baru” adalah singkatan dari Banteng Garuda. Desain Jakarta Baru yang ada Monas, yang ada cahaya mataharinya. Itu dirancang oleh kantor saya.
Bagaimana dengan baju kotak-kotak yang digunakan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta?
Kalau baju kotak-kotak itu pilihannya Pak Jokowi. Pak Jokowi waktu masuk Jakarta, tidak ada yang mengenal. Kalau mau dikenal banyak orang, Pak Jokowi mau pakai baju yang sama setiap hari. Hanggo, salah satu ajudan Jokowi mencari baju di Mal Ambassador. Pak Jokowi menyampaikan, “Saya mau pakai ini (baju kotak-kotak) setiap hari.” Lalu, saya sampaikan kepada Pak Jokowi untuk bisa diproduksi banyak agar bisa dijual. Kalau kita jual, kita tidak hanya dapat uang, tetapi juga kita pasti dapat suara pemilih. Waktu itu tidak tahu kenapa, daya magisnya Pak Jokowi membuat banyak orang membeli baju kotak-kotak itu. Saat itu, tidak ada yang kita bagi gratis. Kita memproduksi sekian puluh ribu, dan itu habis semua dibeli.
Apa yang membuat Pilkada DKI begitu spesial bagi Anda?
Pilkada DKI Jakarta itu eksperimen baru melalui relawan politik. Eksperimen baru karena kita bekerja secara teritorial di darat. Yang paling penting buat saya, nama saya pertama kali terekspos di kancah politik nasional melalui Pilkada Jakarta. Setelah Pilkada Jakarta 2012 dan Jokowi menang, saya tidak pernah lagi bidding pekerjaan. Banyak klien yang mengantre di kantor. Kita menyeleksi klien. Bukan klien yang menyeleksi kita. Dan itu dari mulut ke mulut juga. Dari informasi Ahok dan Jokowi.
Pada Pilpres 2014, kita mendukung Pak Jokowi lagi dan menang lagi. Kadang-kadang saya agak jumawa sedikit karena saya rasa tidak ada konsultan politik yang lebih besar dari Cyrus Network, baik dari sisi skala, jumlah SDM, dan kesiapan.

MEMBANTU JOKOWI DI PILPRES 2014
Bagaimana situasi dalam Pilpres 2014 saat Anda membantu Jokowi?
Sebenarnya, kalau Pilpres 2014, rencananya saya mau abstain. Pembicaraan dengan timnya Pak Prabowo waktu itu tidak konklusif. Sementara dari pihak Pak Jokowi tidak ada yang mengajak bicara. Saya baru dipanggil oleh Pak Jokowi, H-40 sebelum Pilpres. Waktu itu saya dipanggil ke Taman Suropati.
Ketika itu elektabilitas Pak Jokowi sudah dipotong oleh Pak Prabowo. Saya dipanggil untuk menjelaskan kenapa dan bagaimana cara mengatasinya. Setelah itu, secara resmi saya diminta membantu. Saya bilang waktu tinggal mepet, jadi kita harus benar-benar kerja keras. Saya waktu itu hanya berani menangani 13 kabupaten/kota di Jawa Barat, Sumatera Utara, dan DKI Jakarta. Di Jakarta, kita pegang full. Di Jawa Barat situasi berat. Kita hanya bisa memperkecil supaya tidak terlalu besar selisih suara antara Jokowi dan Prabowo. Walaupun jaraknya tetap jauh. Namun, di Sumatera Utara kita bisa menang tipis. Juga menang di Jakarta.
Kemenangan Jokowi tidak hanya pekerjaan kita saja, melainkan pekerjaan bareng-bareng. Tapi di daerah yang kita pegang, hasilnya menang. Kalau di Jawa Barat, kita sudah menyampaikan sejak awal, ini berat. Survei menunjukkan begitu, kita tidak boleh takabur mau mengubah itu, seperti tukang sulap mengubah sapu tangan jadi burung merpati. Kita kan tidak bisa begitu. Kita hanya bisa melakukan optimalisasi. Kalau ada yang bagus, kita dorong supaya bisa menang. Kalau tidak bisa menang, kita memperkecil kekalahan.
Bagaimana interaksi Anda dengan Jokowi setelah Pilpres 2014?
Hampir tiap bulan saya dipanggil Jokowi. Kadang-kadang sebulan bisa dua kali dipanggil. Waktu itu ketemu presiden tidak susah sama sekali. Selama 10 tahun pemerintahan Pak Jokowi, bertemu presiden itu kayaknya biasa. Bukan sesuatu yang istimewa. Pak Jokowi memanggil banyak orang, baik sebelum atau sesudah saya. Jadi kalau misalnya kita ngolah, presiden pasti tahu. Jadi kita tidak bisa memonopoli, karena presiden mempunyai banyak sekali informasi. Jadi, window presiden luas dan dia tidak hanya memiliki satu perspektif saja. Presiden Jokowi mendapat banyak informasi sebelum mengambil keputusan.
Apakah Anda masih rutin melakukan survei saat Jokowi menjadi presiden?
Ya, saya masih rutin melakukan survei. Presiden juga sering menanyakan survei melalui ajudan. Kebetulan memang 10 tahun itu banyak order survei. Ada saja yang meminta survei, baik individu maupun partai politik.
Apakah hubungan Anda pernah naik turun dengan Jokowi?
Iya, pasti. Tidak semua nasihat kepada Jokowi yang kita setuju. Ada ide-ide tertentu yang dapat menjerumuskan Jokowi. Saya sampaikan itu kepada presiden. Tapi mungkin bahasa saya belum tentu bisa diterima sepenuhnya. Naik-turun itu, misalnya, Jokowi mungkin entah sibuk atau apa, tidak memanggil saya seperti biasanya. Beberapa bulan tidak dipanggil (tertawa).
Bagaimana Anda menjaga hubungan dengan Jokowi?
Saya tidak pernah mengajukan diri untuk bertemu Pak Jokowi. Tapi saya rasa Pak Jokowi haus informasi dan ingin mendapatkan perspektif seluas-luasnya, supaya tidak salah mengambil keputusan. Bahkan mengundang orang yang kontra dengan kebijakan pemerintah untuk mendapatkan perspektif lain. Menteri-menteri waktu itu banyak yang mencari saya. Saya kaget juga dicari sama menteri-menteri.
MENGALAHKAN PRABOWO TIDAK MUDAH
Bagaimana dengan Pilpres 2019, apakah lebih mudah karena Jokowi inkumben?
Pilpres 2019 jauh lebih siap. Walaupun tetap saja harus diakui mengalahkan Prabowo tidak gampang. Perlawanan tetap keras. Pada tahun 2019, saya tidak mau lagi memegang Jawa Barat. Disuruh menangani Jawa Barat, saya sampaikan, “Pak, Jawa Barat, wassalam saja, Pak.” Sudah pasti kalah juga. Sumatera Barat, Aceh begitu. Sudah pasti kalah juga. Ikhlaskan saja.
Waktu Pilpres 2019, banyak konsultan yang menjadi konsultan Jokowi, ya?
Mungkin ada. Saya yakin setiap daerah ada yang pegang. Kalau saya 2019 hanya pegang DKI, Lampung, sama Sumut. Jadi tidak banyak-banyak dan hanya di daerah yang kita merasa kita bisa maksimal. Disuruh menangani 7 provinsi daerah saya sampaikan ke beliau: “Pak, saya tidak punya sumber daya yang memadai untuk pegang 7 daerah.” Awalnya saya cuma minta Jakarta saja pada 2019. Terus besoknya dipanggil. “Ini masih ada 6 daerah lagi yang belum pegang,” kata Jokowi.
Anda pernah mengumumkan pensiun dari politik. Apa maksudnya?
Tahun 2019 saya berhenti menjadi CEO CN di puncak karier saya. Tepatnya pada 11 Oktober 2019. Umur saya ketika itu 40 tahun. Saya mundur dari CEO dan menjadi komisaris, walau tidak mendapatkan gaji. Jadi saya sudah berhenti menerima gaji sejak November 2019. Kalau keuntungan kantor, saya masih menerimanya. Cyrus bukan seperti multinasional company yang banyak tingkatannya. Dengan saya mundur, hampir semua pendiri mempunyai kesempatan menjadi CEO.
Saat berada di puncak, ada saatnya berhenti dan mencoba tantangan baru. 2024 saya melepas semua saham, dan hanya membawa badan ke luar. Alhamdulillah setelah saya pensiun, rezekinya tidak kurang kok. Ada saja.

MENDUKUNG PRABOWO DI PILPRES 2024
Mengapa Anda mendukung Prabowo dalam Pilpres 2024? Apakah itu karena kedekatan dengan Jokowi?
Pada tahun 2024, kita melihat kebersamaan Jokowi dan Prabowo yang tidak bisa ditutup-tutupi. Keduanya saling menghormati. Sebelumnya, Jokowi sangat serius mencoba untuk memasangkan Prabowo dengan Ganjar.
Saya merasa kayaknya Pak Jokowi menginginkan Pak Prabowo. Kita meraba-raba dulu dengan melihat gestur Jokowi. Saya dan Pak Jokowi bertemu hampir tiap bulan. Saya melihat gestur dan pembicaraan Jokowi tentang Prabowo selalu positif dan respect-nya kelihatan. Jokowi menilai Bu Mega dengan respect. Kalau membicarakan Ganjar, Jokowi tidak berkata yang jelek-jelek, tetapi melihat Ganjar sebagai bawahan presiden. Melihat Jokowi dengan respect kepada Prabowo, kita juga harus melihat Prabowo dengan perspektif yang baru. Dulu kan perspektifnya bermusuhan; sekarang harus dengan perspektif yang lebih positif.
Apakah Anda pernah menanyakan hal-hal yang sensitif kepada Prabowo sebelum mendukungnya?
Saya bertemu langsung dengan Prabowo pada Februari 2023. Berbicara berdua dan menanyakan macam-macam, termasuk pertanyaan-pertanyaan sensitif soal penculikan. Hampir semua dijawab oleh Prabowo, dan beliau tidak marah. Itu yang bikin saya agak amazed, karena beliau tidak marah. Saat itu saya bertanya dengan sangat keras, menyudutkan, dan sensitif. Tapi Prabowo tidak marah.
Apa yang membuat Anda yakin mendukung Prabowo?
Cara pandang Prabowo itu industrialisasi. Sementara saya melihat Ganjar masih berpikir agraris. Saya pernah bicara sama Ganjar di rumahnya sampai jam 2 pagi. Saya tetap melihatnya sebagai manusia agraris. Kalau perspektif agraris, kita tidak akan berkembang, tidak akan melompat.
Kalau kita mau memanfaatkan bonus demografi bukan dengan agraris tapi dengan industri. Prabowo itu yakin sekali dengan hilirisasi. Melalui hilirisasi itu, misalnya, dari satu bahan baku bisa menjadi banyak jenis produk hilirisasi, dengan nilai tambah yang ratusan kali lipat. Program yang dimulai Prabowo dengan Danantara ini sebenarnya hampir 100 persen hilirisasi. Soal berhasil atau tidak, itu nanti urusan lain.
Bagaimana Jokowi mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo?
Awal Januari 2023, Jokowi belum mendeklarasikan dukungan untuk Prabowo. Saat itu beliau masih mendukung Ganjar dan hasil surveinya tinggi. Ketika itu, lembaga survei masih banyak yang mendukung Ganjar. Setelah April 2023, situasi berubah, yaitu ketika Ganjar dan PDI Perjuangan mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Sebelumnya, Ganjar juga menolak pelaksanaan Piala Dunia U17 di Indonesia. Saat deklarasi Ganjar sebagai capres, saya bertanya dan Pak Jokowi menyampaikan: “Saya tidak tahu, saya sudah di Solo, sudah siap-siap mau lebaran,” katanya.
Saya mendeteksi hubungan Jokowi-Ganjar mulai renggang. Dan kita yakin, siapa yang didukung Jokowi dalam pilpres akan menang. Pada Agustus 2023, saya menghadap Pak Jokowi. Saya sampaikan, “Kalau saya akhirnya memutuskan mendukung Prabowo, apakah Bapak berkenan?” Jokowi menjawab, “Saya sudah tahu Pak Hasan mau ke mana. Sudah benar itu.”

DIANGKAT MENJADI KEPALA PRESIDENTIAL COMMUNICATION OFFICE (PCO)
Bagaimana awalnya dulu membangun PCO dan apa yang dibayangkan soal peran strategis PCO?
Sebenarnya itu tugas, karena saya tidak pernah melamar. Saya diminta oleh Bang Sufmi Dasco Ahmad untuk menjadi Kepala PCO dan dilantik menjelang akhir pemerintahan Jokowi. Sebelum dilantik saya menghadap Prabowo di Kertanegara yang ketika itu masih menjabat sebagai Menhan. Saya minta restu.
Saya ikut memberikan sentuhan akhir terhadap Perpres. Garis besarnya sudah disiapkan oleh Kemenpan RB sebagai lembaga nonstruktural yang bertugas memonitor, menyiapkan, memproduksi serta mengelola informasi strategis keluar-masuk istana. Jadi sebenarnya tegas sekali di Perpres-nya. PCO ini adalah kantor kejubiran. Karena seluruh jubir presiden itu ditempatkan di PCO. Jadi, PCO setingkat kementerian. Sebenarnya panduannya sudah jelas. Yang tidak kita pahami adalah ketika dibuat menjadi lembaga baru, perjuangannya seperti perjuangan kemerdekaan.
Bagaimana maksudnya itu?
Kita mulai dari nol. Jadi, ketika kita dilantik, kita belum memiliki kantor. Kantor kita pertama kali di Cafe Merdeka Lounge. Kita juga belum memiliki struktur dan SDM. Beda kalau ganti menteri, sudah ada kementeriannya. Ini seperti membuat startup. Tugas dan fungsinya jelas, tapi infrastrukturnya belum ada.
Yang paling berat itu adalah membangun infrastruktur. Anggarannya juga belum ada. Saat itu anggaran dialihkan dari KSP (Kantor Staf Presiden). Tapi kecil sekali dan itu tidak bisa dipakai untuk kantor. Tidak bisa dipakai buat menggaji karyawan karena hanya bisa untuk perjalanan dinas.
Benar-benar berdarah-darah ya?
Berdarah-darah, dan itu yang kita belajar. Kalau lembaga baru, ya pasti mulai semua dari nol dan prosesnya tidak gampang. Saat di awal pendirian, kita tidak punya DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) sendiri. Kita nebeng di Setneg dengan status anggaran khusus. Mata anggaran khusus buat PCO baru ada pada Mei 2025.
Di tengah situasi seperti itu, apa yang Anda lakukan?
Kita tidak mencari pendanaan. Kalau mencari, kayaknya good governance-nya tidak dapat. Mendanai sendiri saja. Mau cari ke siapa? Siapa yang mau juga? Tapi sebenarnya mendanai sendiri good governance-nya juga tidak dapat. Cuma tidak ada pilihan saat itu. Kita minta anak-anak bekerja buat negara, tapi kalau tidak ada gaji, kan tidak mungkin. Itu lebih kepada tanggung jawab moral saja. Kita tidak sanggup kalau mereka tidak digaji. Mana sanggup kita suruh-suruh mereka. Yang terjadi adalah akan ada pemberontakan dari dalam. Atau mereka curhat di medsos. Nah, ini demi nama baik saja. Nama baik kita, nama baik negara.
Apa batu loncatan yang banyak memberikan pengaruh pada Anda sampai saat ini?
Saya mempunyai kesadaran dan tanggung jawab sebagai pribadi yang harus bisa hidup mandiri ketika ayah saya meninggal, agar tidak membebani ibu. Dan saya berhenti marah-marah dan maki-maki orang setelah menikah.

PESAN UNTUK ANAK MUDA
Indonesia punya populasi muda yang besar dan sejumlah perubahan politik karena peran anak muda. Bagaimana sebaiknya anak muda saat ini melihat politik?
Saya mau menyampaikan bahwa politik bukan hanya soal kebebasan. Di atas kebebasan, selalu ada tertib sosial. Kebebasan tanpa tertib sosial akan menjadi anarki dan rusuh. Jadi, memaknai demokrasi itu tidak hanya soal kebebasan (freedom) saja. Ekspresi boleh, tapi di atasnya harus ada tertib sosial.
Menurut saya, anak muda tidak boleh memaknai demokrasi itu sebagai sebuah kebebasan saja. Apalagi asal berkomentar atau terlalu mudah percaya informasi dari media sosial yang kadang-kadang tidak bertanggung jawab. Pesannya sebenarnya bukan buat anak mudanya, justru buat para intelektual. Intelektual harus menjadi orang yang bertanggung jawab di media sosial dan jangan menjadi provokator. Jangan mengumbar kebencian dengan dalih kebebasan. Semakin banyak tayangan yang berkualitas akan membuat anak muda kita menjadi lebih bertanggung jawab.***





