Enggartiasto Lukita bukan nama baru di politik. Ia malang melintang mulai dari aktivis mahasiswa, pengusaha, dan politisi. Enggar pernah menjadi anggota DPR dari Partai Golkar selama tiga periode hingga turut membidani lahirnya Partai Nasdem. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, ia diangkat menjadi Menteri Perdagangan dari 2016-2019.
Enggar adalah sosok yang menempuh perjalanan hidup panjang dan berlapis, dari dunia usaha hingga pengabdian di pemerintahan. Memulai dari bawah secara struktural sebagai staff di Bangun Tjipta Sarana, tetapi tugas utamanya menangani dan membantu kegiatan sosial, politik serta organisasi dari Bapak Siswono Yudo Husodo.
Setelah secara formal “pensiun” dari politik pada tahun 2022, Enggar kembali berbisnis. Ia mengembangkan usaha baru di dunia media dengan bendera B-Universe. Keterlibatannya sebagai pengusaha media menandai fase penting lain dalam perjalanan hidupnya. Enggar memahami bahwa media memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik dan menjaga kualitas demokrasi. Di sektor ini, ia melihat informasi sebagai kekuatan yang harus dikelola dengan profesionalisme dan tanggung jawab etik.
Memasuki usianya yang ke-75, Enggar masih terlihat bugar. Kepada Arya Fernandes, Enggar berbagi pengalaman hidupnya dengan jelas dan runtut. Berikut petikan wawancaranya:
Menjadi Aktivis
Anda dikenal sebagai pengusaha dan politisi. Bisa menceritakan bagaimana memulai perjalanan menjadi aktivis politik dan bisnis?
Tahun 1977 saya selesai dari IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Berbeda dengan kakak-kakak saya yang semuanya alumni UNDIP, saya memilih IKIP Jurusan Sastra Inggris. Waktu itu saya tidak diterima di ITB maupun di UNDIP. Tahun 1978, setahun setelah tamat IKIP, saya resmi memiliki Nomor Pokok Anggota (NPA) Golkar.
Saya mau cerita dulu jauh sebelumnya. Ketika masih menjadi pelajar, saya ikut Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) 1966. Waktu itu masih ikut-ikutan dan belum tahu apa motivasinya. Saya lalu bergabung di GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia). Setelahnya sekitar tahun 1970an atas saran tokoh GAMKI Cirebon saya bergabung dengan GMKI, dan pernah menjadi Ketua Badan Pengurus GMKI Cabang Bandung, merangkap sebagai pengurus pusat GMKI.
Saya mulai menikmati Bandung dan betah tinggal di sana. Saya menyukai environmentaktivisme Bandung dan ide-ide saya bisa tersalurkan sebagai aktivis. Sejak saat itulah saya berproses sebagai aktivis politik dan berinteraksi dengan banyak aktivis mahasiswa lainnya, terutama kelompok Cipayung. Saya juga membangun jejaring dan koneksi dengan organisasi mahasiswa yang dikenal sebagai SOMAL (Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa lokal/daerah), yang secara kultural cukup kuat di Bandung.
Selain aktif di organisasi kemahasiswaan, saya juga aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan, saya pernah menjadi sekretaris himpunan, lalu menjadi Wakil Ketua di Senat Fakultas dan Pj. Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas dan sampai menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa IKIP Bandung.
Bagaimana Anda dapat beradaptasi dalam politik dan aktivisme?
Saya masuk dalam kategori double minoritas. Saya keturunan Cina, dan saya Kristen, tapi saya bergaul dengan banyak orang. Dari dulu saya tidak pernah mau diperlakukan berbeda, dan saya tidak mau berbeda. Saya dekat dengan teman-teman HMI. Salah satu senior saya, yang banyak terlibat membentuk saya itu adalah almarhum Sofyan Taftazani, Sastra Arab IKIP, dan tokoh HMI. Saat itu Kang Sofyan adalah Ketua Umum Senat dan banyak membina saya, mengajak saya, dan menggembleng saya menjadi aktivis. Kemudian alm. Zulkabir tokoh IMM. Beliau pada saat itu Ketua Presidium Dewan Mahasiswa IKIP Bandung.
Sebagai aktivis kita harus realistis. Saat pemilihan Senat Fakultas, saya sadar, saya tidak mungkin bisa menang karena double minoritas, meskipun saya berambisi untuk maju. Saya berhitung. Realistik saja tidak mungkin menang. Saat itu saya bicara dengan Fuad Abdul Hamid (juga HMI) dan “adik” angkatan saya, kemudian bekerja sama, menjadikan Pak Fuad sebagai Ketua Umum dan saya sebagai salah satu ketua.
Sejak mahasiswa saya mendorong politik yang inklusif, di mana semua orang harus mendapatkan kesempatan yang sama, tetapi seiring dengan itu juga tanggung jawab yang sama.
Anda mengalami peristiwa Malari?
Tahun 1974, terjadi peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Tanggal 14 Januari, Bandung bergejolak. Kami bergerak dan berkumpul di Unpad Dipatiukur. Saat itu, saya dapat tugas membawa pasukan mahasiswa IKIP Bandung dan menjadi komandan pasukan. Di lapangan tidak mudah, intel-intel banyak, baik dari Kodam atau Kepolisian. Kita mendapat briefing khawatir akan terjadi chaos. Waktu itu Kodam minta mahasiswa menarik diri dan kembali lagi ke kampus. Sehari setelahnya, di Jakarta, meledaklah Malari. Setelah Malari meledak, kami sebagai aktivis berpindah-pindah tidur untuk menghindari kalau terjadi apa-apa.
Sebagai aktivis, bagaimana Anda mulai membangun kontak dengan elite Jakarta?
Saat menjadi Pengurus Pusat GMKI saya mulai berinteraksi dengan elite-elite Jakarta. Setelah peristiwa Malari saya baru mulai berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Cipayung, baik dari HMI, GMNI, PMII dan PMKRI. Baru sesudah itu terus kita berjalan sebagai aktivis, itu sebabnya saya kuliah tujuh tahun (hahaha). Karena terlalu lama menyelesaikan kuliah, saya dipanggil dekan, pembantu dekan, dan pembantu rektor. Saya diminta menyelesaikan skripsi atau drop-out. Orang tua saja juga marah karena tidak selesai. Akhirnya kuliah saya selesai juga di tahun 1977.

Anak Buah Pak Sis
Apa aktivitas Anda setelah lulus kuliah?
Saya harus kerja, kalau tidak, saya tidak bisa menikah. Istri saya juga sama-sama dari IKIP Bandung, sama-sama sebagai aktivis. Dia jurusan Fisika. Dia benar-benar jadi guru, sedangkan saya tidak pernah jadi guru. Kemudian saya pengen kerja, tapi saya kerja nggak mau jadi guru. Nah kemudian saya melamar ke perusahaan Pak Siswono Yudhohusodo, pengusaha nasional Bangun Cipta Sarana Grup itu. Pak Siswono pernah Ketua Umum BPP HIPMI, KADIN dan segala macam. Pak Sis langsung mewawancarai saya saat itu.
Saya diterima di perusahaan Pak Siswono. Waktu itu Pak Sis butuh seseorang yang memiliki latar belakang aktivis, karena akan ada Munas HIPMI, KADIN dan lain-lain. Kebetulan di CV saya menuliskan perjalanan karier aktivis saya. Saya lalu menjadi staf di BTS dengan tugas utama menangani aktifitas pribadi Pak Sis. Saya benar-benar mulai dari bawah. Di Jakarta itu saya naik bus kota. Lalu saya ditempatkan di Pengawasan Penelitian Pengembangan Perusahaan, lalu di Personalia sampai saya sebagai Asisten Direktur Utama. Kemudian saya menjadi sales dan marketing manager untuk properti, lalu menjadi salah satu Direktur di anak perusahaan BTS yaitu Bangun Tjipta Pratama yang khusus bergerak dalam bidang Real Estate sampai menjadi Direktur Utama.
Apa yang Anda kenang dari Pak Siswono?
Rasa nasionalisme saya lebih dipertebal oleh Pak Siswono. Rasa kepeduliannya kepada masalah bangsa ini. Tanggung jawab kita mempunyai visi ke depan untuk bangsa ini. Pak Siswono membentuk saya. Sampai sekarang saya bilang Pak Sis adalah bos saya, yang membesarkan saya.
Waktu itu kondisi perusahaan kita cukup berat karena proyek-proyek Pertamina saat krisis dicoret Pemerintah. Kita mengerjakan proyek-proyek di Pertamina, tetapi proyeknya distop sebelum kita dibayar. Di situlah saya melihat pengorbanan Pak Sis yang tidak minta ganti rugi ke negara. Rumahnya dijual dan salah satu rumah atas nama istrinya, Mbak Ratih—untuk melunasi utang perusahaan.
Berapa lama Anda bekerja dengan Pak Sis?
Cukup lama dari 1978-1992. Waktu itu saya sempat ditawari bekerja di Astra, termasuk saya ditawari oleh Bang Surya Paloh untuk Majalah Prioritas. Saya bilang ke Bang Surya waktu itu: “Saya tidak mungkin meninggalkan Pak Sis.” Bagi saya ini bukan soal uang. Saya tidak bisa ninggalin orang yang membesarkan saya.
Anda kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya?
Waktu itu saya dipercaya mengurus yang terkait dengan bisnis perumahan. Lalu unit real estate itu dibentuk menjadi satu PT, saya menjadi anggota direksi. Jadi Bangun Cipta Sarana itu, ada unit real estate, ada unit transmigrasi, ada unit kontraktor, ada segala macam. Kemudian dibentuk masing-masing menjadi badan hukum sendiri. Ada Bangun Cipta Kontraktor, ada yang kolam renang itu Bangun Tirta Sarana, ada Bangun Cipta Pratama khusus real estate.
Saya menjadi salah satu anggota direksi. Kita ada tiga direksi di sana, saya salah satu. Kemudian dalam perjalanan waktu, saya menjadi Dirut di Bangun Cipta Pratama dan pada waktu perusahaan itu dibentuk, kami diwarisi utang. Ada aset, ada utang, tapi asetnya tidak seimbang dengan utang.
Pada waktu saya menjadi Dirut itu, kemudian saya harus bertanggung jawab mengatur pembayaran utang, ke berbagai perbankan/lembaga keuangan, yang sebenarnya kita nggak bisa bayar, tapi hanya menunda saja. Terus setiap waktu meminta reschedule lagi, reschedulelagi. Sampai satu ketika saya ke Bank Bumi Daya, kemudian eh, dimarahin sama direksi BBD. Bolak balik, bolak balik. “Bisa nggak sih?” dia bilang. Sebenarnya gimana sih? Jadi saya bilang sama dia, “Pak, kami tidak bisa bayar, tapi kami mau bayar.” Saya minta rescheduletujuh tahun. Dimaki saya. Setelah bisa mencari jalan ke luar untuk melunasi utang, saya dikasih saham sama Pak Sis. Pak Sis tahu bahwa saya mau berjuang untuk membesarkan perusahaan.
Setelah itu Anda membangun perusahaan sendiri?
Iya. Pada waktu saya menjadi Ketum REI saya minta permisi ke Pak Sis untuk bentuk usaha sendiri, salah satu alasannya adalah target saya membentuk REI ke semua Propinsi yang waktu itu hanya ada di 14 daerah, sehingga saya akan banyak meninggalkan tugas-tugas kantor. Pak Sis selalu mengatakan kepentingan yang lebih besar harus mengalahkan kepentingan yang lebih kecil. Pak Sis memberikan izin saya untuk memulai bisnis dan menempatkan saya sebagai anggota dewan komisaris saja di BTP.
Apa pelajaran penting menjadi aktivis dan bekerja di Pak Sis?
Tahun ’78 saya masuk Golkar. Sejak mahasiswa kami terlatih untuk berjuang dan terbiasa untuk bernegosiasi dan bargain. Kemudian membuat jaringan. Saya aktif di kelompok Cipayung, maka kita mempunyai jaringan dan hubungan dengan organisasi mahasiswa yang lain. Jadi komunikasi, interaksi, itulah yang membentuk kita. Semua hal itu bermanfaat bagi saya ketika menjadi politisi dan pengusaha.
Saat bekerja dengan Pak Sis, saya mempelajari bagaimana berbisnis dan melihat ke depan. Kemudian waktu menjadi Ketua Umum REI (Real Estat Indonesia). Kita juga adakan berbagai diskusi, diskusi not just for the sake of discussion, tapi kita lihat mengenai bagaimana prospeknya. Jadi kalau hanya berorganisasi, ya you get nothing. Tetapi kalau kita juga melihat bahwa ini sebagai opportunity, tentu kita akan berbeda. Selain itu kita juga berbagi pengalaman/pengetahuan cara membangun dan menjual rumah.
Di REI juga kita ada kegiatan, kita adalah member dari Asosiasi Real Estate Sedunia, FIABCI. Nah setiap Desember saya harus ada meeting di Paris, kemudian kongres juga, jadi setahun dua kali lah ke luar negeri untuk itu. Ya, jadi begitu banyak kegiatan-kegiatan kita networkdengan luar negeri juga terjalin.

Aktivitas di Golkar dan Nasdem
Bisa cerita aktivitas Anda di Golkar?
Saya dekat dengan Pak Akbar Tandjung. Waktu saya Ketua Umum REI, Pak Akbar adalah Menteri Perumahan. Waktu Pak Akbar menjadi Ketua Umum Golkar 1999-2004, saya menjadi Wakil Bendahara Umum. Ketika Pak Akbar Tandjung menjadi ketum Golkar, kita sering pulang pagi. Rapat di Golkar bisa sampai jam dua, jam tiga pagi. Beda sama Pak JK. Cepat rapatnya. Di masa Pak Akbar, semua orang dipersilakan ngomong, diladenin satu per satu.
Saya ikut kampanye Golkar sebagai Jurkam tahun 1982. Dulu, Golkar sangat lengkap proses kaderisasi segala macam, ada tahapannya dan yang paling lengkap di dalam struktur, dan ada pedoman organisasi. Dan paling lengkap adalah zaman Pak Sudharmono. Saya juga pernah menjadi BAPILU Golkar. Menjadi anggota BAPILU di Golkar itu harus melalui proses dan training dulu.
Bagaimana kiprah awal Anda menjadi anggota DPR?
Saya pernah menjadi utusan daerah di MPR tahun 1997-1999. Kemudian saya menjadi anggota DPR tahun 2000-2004, lalu terpilih kembali pada 2004-2009, 2009-2014. Semuanya dari Dapil Jabar 8 Cirebon. Total 3 periode jadi anggota DPR namun pada tahun 2013 sebelum berakhir periode sebagai anggota DPR saya mundur dari DPR mundur dari Golkar karena ikut mendirikan Partai NasDem.
Bagaimana sejarah pembentukan Nasdem?
Waktu Munas Golkar di Riau tahun 2009, saya timnya Pak Surya Paloh. Waktu itu Pak Surya berhadapan dengan Pak Ical (Aburizal Bakrie). Waktu konsolidasi, seluruh hotel di Nusa Dua Bali kami blok. Kami mencarter enam pesawat. Yang menjadi EO (Event Organizer) nya adalah Rio Abdurrahman.
Setelah Bang Surya kalah terus kita bikin Ormas Nasional Demokrat. Tidak ada ketentuan di Partai Golkar, bahwa kalau aktif di ormas, harus berhenti. Tetapi sudah dikasih tahu bahwa ormas itu harus ormas yang mendukung Golkar. Tetapi dari awal sudah ada skenario kita akan membentuk partai. Setelah saya mundur dari Golkar, saya total di Nasdem, karena sudah janji dengan Bang Surya untuk membesarkan Nasdem.
Apa peran Anda di Nasdem ketika awal-awal?
Saya di Bappilu partai bersama alm. Ferry Mursidan Baldan. Saya bilang ke Bang Surya, saya di Bappilu. Kenapa? Dari semua itu, termasuk Pak Ferry, saya yang lolos melalui proses dua setengah kali Bappilu di Golkar. Saya lalu membentuk Tim 7 untuk perekrutan caleg dan kepala daerah yang ditentukan berdasarkan survei. Saya nggak peduli mau saudara, atau siapapun, nggak ada urusan saya.

Menjadi Menteri
Bagaimana ceritanya Anda menjadi menteri?
Setelah mundur dari DPR, saya aktif di partai saja. Pernah saya bersama dengan almarhum Pak Ferry, dipanggil Presiden ke Istana. Ketika itu hanya ada Pak Presiden, Pak Pratikno, dan dan Pak JK. Hanya ngobrol sebentar. Tapi saat 2014 hanya Pak Ferry yang diangkat jadi Menteri, saya tidak. Setelah itu ada reshuffle kabinet 2016, ternyata saya dilantik menjadi Menteri Perdagangan, saya kira akan menggantikan Pak Ferry. Kaget saya. Sebelum dilantik menteri, tengah malam saya ditelepon Istana, lalu saya telepon ke Bang Surya.
Apa yang Anda lakukan awal-awal menjadi menteri?
Saya kumpulkan para dirjen dan sekjen. Saya pelajari semuanya dan saya minta semua kebijakan yang akan dibuat harus lapor saya. Saya sampaikan selama saya ada di kantor, maka eselon satu tidak boleh pulang tanpa izin saya. Nah, untuk itu setiap makan malam, saya bikin makan malam bersama. Saat saya menjadi menteri, pulang itu paling cepat jam setengah sepuluh malam. Saya sering bawa dua sampai tiga koper kerjaan ke rumah dan saya ngerjainnya sampai jam setengah satu dini hari, setiap hari.
Apa pelajaran penting yang dapat Anda sampaikan sebagai nasehat bagi anak muda?
Dalam perjalanan hidup, nilai-nilai, kerja keras dan komitmen jangan dilupakan. Itu saya pegang dan jadi satu komitmen di dalam hidup saya. Ketika memilih keluar dari Nasdem, saya tetap berkawan dan bersahabat dengan Bang Surya, meskipun kami memiliki pilihan politik yang berbeda saat pilpres 2024.

***BIODATA
Nama: Enggartiasto Lukita
Tempat Tanggal Lahir : Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, 12 Oktober 1951
Pendidikan: Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Bandung
Karier:
- Komisaris Utama PT Unicora Agung
- Dirut PT Kartika Karisma Indah
- Dirut PT Kemang Pratama
- Dirut PT Bangun Tjipta Pratama
- Direktur Utama PT Supradinakarya Multijaya, 1994–2004
- Komisaris Utama PT Bersatu Digital Indonesia, 2022–sekarang
Organisasi dan Jabatan:
- Ketua GMKI cabang Bandung,1974–1976
- Anggota Partai Golkar, 1978
- Wakil Sek Jend. REI, 1986–1989
- Ketua I DPP REI, 1989 – 1992
- Wakil Ketua BPD HIPMI Jakarta, 1988–1993
- Wakil Bendahara Umum DPP AMPI, 1990–1995
- Anggota Dewan Kehormatan BPP Hipmi, 1990–1995
- Ketua Umum REI 1992–1995
- Wakil Ketua FIABCI, 1992–1995
- Anggota Dewan Penasihat Golkar, 1992–1997
- Anggota Dewan Penasihat Ukrida, 1994–1998
- Anggota Dewan Riset Nasional, 1994–1999
- Anggota Yayasan PPM, 1995 – 2025
- Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi REI, 1995–1998
- Ketua PPK Kosgoro, 1995–2000
- Ketua Bidang Khusus Percasi, 1996–1998
- Ketua Kehormatan REI, 1996 – sekarang
- Wakil Bendahara Umum DPP Golkar, 1998–2004
- Anggota DPR/MPR RI, 2000–2004
- Ketua IKA UPI, 2000–2004
- BAPPILU Pusat Partai Golkar, 2003
- Anggota DPR/MPR RI, 2004–2009
- Anggota DPR/MPR RI, 2009–2014
- Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI), 2012–2022
- Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Partai Nasdem, Ketua Bappilu Januari 2013
- Menteri Perdagangan Indonesia, 2016–2019






